IT1 telah melahirkan sebuah industri baru, yaitu industri IT. Contoh industri IT ini adalah industri telekomunikasi2 (Telkom, Indosat dan operator telekomunikasi lainya), perangkat lunak (software, seperti misalnya Balicamp), perangkat keras (hardware, seperti misalnya PT INTI), integrasi sistem (system integrator), jasa internet (Internet Service Provider atau ISP, web hosting, Aplication Service
Provider), dan masih banyak yang lainnya. IT sudah menjadi sebuah industri yang nyata dan dapat memberi kontribusi kepada pendapatan negara. Di Indonesia, industri IT diharapkan dapat dikembangkan untuk menyumbangkan devisa kepada Indonesia paling tidak sebesar $8.2 miliar di tahun 2010. Target ini tidak berlebihan mengingat pasar dunia di bidang ini telah melebihi satu triliun $, di mana pasar domestik Indonesia diperkirakan telah mencapai $1.5 miliar. Hal ini menuntut pengembangan daya saing industri IT Indonesia, sehingga secara kolektif mampu tumbuh, berkembang, dan merebut pangsa pasar tersebut.
Namun demikian, terrnyata Sumber Daya Manusia yang bergerak di bidang Information Technology (SDM IT) tidak mudah diperoleh. Bahkan di negara yang terdepan dalam industri IT, yakni Amerika Serikat (di Silicon Valey dan pusat industri IT lainnya), masih kekurangan SDM IT. Salah satu cara mereka untuk mengatasinya adalah dengan mengimpor SDM IT dari luar negeri, khususnya India dan China. Cara lain yang dilakukan adalah dengan outsource pekerjaan ke luar negeri. Jika Indonesia menargetkan tambahan devisa sebesar $8 miliar/tahun dalam industri IT, dan produktifitas seorang pekerja diasumsikan sebesar $25.000, maka jumlah pekerja yang dibutuhkan adalah 8 milyar/25 ribu, yakni 320.000. Perlu kerja keras untuk mencapai jumlah tersebut. Jika Indonesia tidak mempersiapkan pemenuhan kebutuhan SDM IT, maka bukan tidak mungkin Indonesia hanya akan menjadi pengimpor atau konsumen IT. Dan bukan pemasukan devisa negara sebesar $8,2 miliar/tahun yang diperoleh, tapi pengeluaran sebesar itu untuk memenuhi kebutuhan IT di dalam negeri. Oleh karena itu penting bagi Indonesia untuk merencanakan dan mempersiapkan pemenuhan kebutuhan SDM IT. Dalam hal ini perlu dukungan dari berbagai pihak antara lain, pemerintah, universitas-universitas, lembaga-lembaga non-formal penghasil SDM IT dan semua lapisan masyarakat pengguna IT.
Estimasi jumlah tenaga yang diperlukan dapat dilakukan menggunakan kinerja industri yang diharapkan. Dalam rencana BHTV, ditargetkan produksi bidang IT Indonesia di tahun 2010 adalah sebesar $8.2 miliar dengan produktivitas rata-rata $25,000 per tahun. Oleh sebab itu, sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 1, proyeksi pertumbuhan produksi ini membutuhkan tenaga kerja hingga 327,000 orang di tahun 2010. Dari tabel ini dapat diproyeksikan jumlah tenaga kerja yang diperlukan. Asumsi yang digunakan adalah perbandingan jumlah tenaga yang diperlukan menuruti suatu pola perbandingan yang tetap. Dari perkiraan jumlah tenaga yang diperlukan dapat kemudian diestimasikan jumlah tenaga yang perlu dilatih dan disiapkan. Setiap tahun jumlah minimal yang harus dilatih adalah selisih dari jumlah tenaga tahun depan dengan tenaga yang ada pada tahun ini.
Apabila target pencapaian jumlah tenaga kerja terlatih ini hendak dicapai maka perlu diambil langkah-langkah dalam garis besar sebagai berikut:
- Pendefinisian dan pembakuan kompetensi dari tenaga trampil dan tenaga ahli, beserta jumlah yang dibutuhkan per tahun.
- Perancangan proses pelatihan, yang terdiri dari pembuatan program pelatihan, kurikulum, uji kompetensi, sumber daya, kualifikasi pengajar, persyaratan lembaga pelaksana, proses serta proses
- rekrutment peserta.
- Penyiapan dan penetapan lembaga-lembaga pelaksana.
- Pelaksanaan proses pelatihan dan sertifikasi.
- Penempatan pada pasar tenaga kerja IT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar